Our Fhoto

Pupuk Non Subsidi

Pupuk 
Humagrow

Produk Promo

Bibit Online
Diberdayakan oleh Blogger.

Jual Bibit Online

Bibit Online

Bank Transfer

Bibit OnlineBibit Online

Jual Media Tanam

Bibit Online

TIDAK CUKUP SEKEDAR TAHU, TAPI HARUS BISA DAN LUWES.

Oleh : Wayan Supadno/Pak Tani


Dulu saat saya masih remaja saat sedang proses menuntut ilmu baik SMP sd Perguruan Tinggi, tiap kali saya pulang kampung sedapat mungkin saya ikut proses kegiatan Orang Tua maupun Kakek saya, entah itu mencarikan rumput buat sapi, maupun kegiatan rutin di sawah.

Kala itu, saya ingat persis saat masa kuliah saya mengatakn bisa matun, tapi Kakek saya memaksanya untuk saya lakukan sendiri dan merasakan sendiri, ujarnya ilmu tak cukup bisa apalagi hanya tahu, melinkan harus pernah melakukan sendiri syukur - syukur mampu pada tingkat luwes/skill. Di situ inti masalahnya sekarang.

Ketemunya ilmu jika sudah dijalani ( tinemune ilmu teko laku), tiap langkah apa yang sudah dijalankan pasti memberi pesan ilmu hikmah buat bekal langkah - langkah ke depannya lagi.

Hingga sekarang rasa itu, rasa saat matun dan lainnya masih terasa pada diri saya pribadi baik di dalam dada, dalam ingatan pikran bahkan seoalah terasa hingga pada permukaan jemari. Termasuk beberapa filosofinya.

Salah 1 contohnya, matun tak sekedar membersihkan rumput pengganggu tanaman yang hidup di sela - sela tanaman, melainkan agar sebagian akar tanaman utama terputus lalu bercabang lagi lebih banyak lagi, harapannya bisa mencari makanan lebih banyak lagi, guna memacu percepatan tumbuh kembangnya tanaman utama kita.

Apapun alasannya, pernah melakukan dengan penghayatan akan sangat beda dibanding dengan sekedar bisa melakukan, apalagi sebatas tahu teorinya saja, yang membedakan adalah " suasana luwes/skill ".

Inilah mamfaatnya jika sudah saatnya tua atau dituakan atau saat terpaksa harus memimpin, ilmu hikmah itu bisa dijadikan untuk mengontrol pekerjaan bawahan. Suasana itu yang sesungguhnya sangat membahagiakan hati kita sebagai yang dituakan.

Problematika anak muda sekarang setelah saya amati dengan seksama, pada enggan melakukan sendiri sekalipun itu sesaat saja, sehingga predikat " bisa dan luwes "  tidak didapatkannya, yang didapat kadang hanya sebatas tahu atau bisa ala kadar minimalnya saja. Sayang sekali momentum emasnya jika berlalu begitu saja.

Alhasil misi penggiringan anak - anak muda agar punya rasa cinta pekat pada dunia pertanian hasilnya tidak optimal, masih dominan tahu teorinya saja, hasilnya banyak yang alih sasaran pengabdian ke selain dunia pertanian.

Padahal menurut data yang disampaikan Kapusdiktan Kementan tiap tahun kita wisuda sarjana pertanian sebanyak 34.000 orang dan meluluskan SMK Pertanian 200.000 an orang.

Mungkin..
Hipotesa saya di atas butuh kajian lebih lanjut lagi, tapi mungkin juga ada benarnya, atau bahkan mungkin benar  Insan Intelektual Pertanian usia muda baru diwisuda mulai banyak lagi yang gemar bertani inovatif.

Dampaknya..
Jika di masyarakat luas tidak banyak contoh  Petani Sukses berlatar belakang intelektual pertanian, maka akan mengurangi animo minat anak muda lulusan SLTA untuk meneruskan di Fakultas Pertanian maupun Peternakan, dampak lanjutannya dari tahun ke tahun banyak Kampus menutup faklutas tersebut, ini sudah terbukti baik data maupun fakta. 

Dampak lanjutannya lagi, ke depannya dunia pertanian kekurangan insan penerus pemikir dunia pertaniannya, jabatan strategis dan pengusaha pertanian diisi oleh insan non intelektual pertanian. 

Tinggal kita, mau atau tidak dengan rendah hati introspeksi diri, mau mengakui atau tidak dengan gejala yang sudah mulai terjadi ini. Mau atau tidak agar kita lebih tahu diri.

Ini sesungguhnya sebuah gejala resiko negara agraris seperti Indonesia milik kita ini, gejalanya nyata saat ini dalam waktu bersamaan ada banyak lahan terlantar, ada banyak pengangguran, ada banyak pula impor, yang mestinya bisa dilakukan budidaya oleh para pengangguran pada lahan terlantar tersebut guna membendung impor tersebut.

Saya sadar tulisan saya ini akan dibaca oleh ribuan Insan Pertanian, oleh Insan Akademisi Pertanian, tapi sesungguhnya maksud tujuan ruang lingkup tulisan ini justru karena rasa cinta pekat saya kepada pendidikan pertanian, karena sesungguhnya saya juga bagian dari Pendidik Insan Pertanian.

Semoga ini bermanfaat jadi bahan telaah renungan kita bersama..


Salam 🇮🇩
WS/Pak Tani

Surya Prima Tour

Produk Terlaris