Our Fhoto

Pupuk Non Subsidi

Pupuk 
Humagrow

Produk Promo

Bibit Online
Diberdayakan oleh Blogger.

Jual Bibit Online

Bibit Online

Bank Transfer

Bibit OnlineBibit Online

Jual Media Tanam

Bibit Online

KINI PETANI LATAH DALAM SITUASI DILEMATIS

Wayan Supadno/Pak Tani

Beberapa hari lalu, saya sempat diskusi dengan Petani yang sesungguhnya sudah cukup lumayan luas kebun sawitnya 23 ha, baru berumur 4.5 tahun.
Mulai produktif.

Ibarat, saatnya Sang Kran Passive Income mulai terbuka mengucurkan air kehidupan terus hingga 20 tahun mendatang.

Dirinya mengisahkan bahwa 4 bulan terakhir tidak ada labanya sama sekali, omsetnya habis untuk beli pupuk herbisida dan tenaga kerja, karena harga di Pabrik Kelapa Sawit (PKS) hanya sekitar Rp 900/kg, perhitungan saya jika harga segitu setara dengan HPP (harga pokok produksinya), jika memakai sarana serba kimia sintetis dan benih palsu pasti minus (merugi).

Padahal lahan tersebut sebelumnya kebun karet produktif umur 6 tahun, ditebang total diganti sawit juga karena harga karet yang tidak memadai, upaya inovatif sudah dilakukan dengan menanam benih karet PB 26, tapi hasilnya tetap tidak sebanding karena harganya terjun bebas. 

Harapannya karena latah tanam sawit akibat terinspirasi banyak tetangganya masyarakat transmigrasi hidupnya sejahtera karena sawit, nyatanya sawitpun 5 bulan ini latah harganya ikut anjlok juga, landing hingga kandas sampai biaya produksi, jadinya banyak yang remis bahkan merugi .

Lalu minta pendapat saya mau pindah komoditas lain lagi, saya tidak menyarankan bahkan melarangnya, dengan alasan..

Saya ilustrasikan bahwa peternak sapi tanpa punya kebun karet dan kebun sawit luas puluhan hektarpun hidupnya cukup, bahkan di beberapa tempat saya lihat bisa menunaikan ibadah haji dan menyekolahkan anak - anaknya hingga  perguruan tinggi, semua berasal dari hasil usaha ternak sapi.

Sapi..
Komoditas ekspor impor, komoditas global, salah 1 komponen punya pengaruh besar terhadap inflasi.
Artinya marketable dan dijaga ketat oleh Pemerintah keseimbangannya.

Padahal jika kotorannya sapi baik feces maupun urine jika slalu dikumpulkan dan diperkaya dengan mikroba sahabat petani bisa mengurangi biaya produksi, setidaknya bisa menekan anggaran pupuk hingga minimal 50%.

Apalagi jika diperkaya strain mikroba pengurai (Lactobacillus), mikroba penambat N (Azospirilum, Rhizobium, Azotobacter), mikroba pelarut P dan K dan mikroba biopestisida (Pseudomonas, Trichoderma dan Bacillus).
Pasti sangat - sangat membantu Petaninya, karena kohe media biaknya mikroba tersebut.

Caranya..
Tidak harus ditebang semua kebunnya, cukup 1 ha saja fokus intensif ditanam rumput gajah / odot pakan ternak sapinya, 1 ha bisa melayani hingga 70 ekor sapi, sebaliknya 70 ekor sapi bisa menghasilkan pupuk kandang 350 ton kering angin bisa juga untuk mempuk karetnya 22 ha, karena 1 ekor sapi bisa menghasilkan 5 ton kohe/tahun dan 4 .000 liter urine/tahun. Dampaknya makin kompetitif.
Biaya produksi murah, laba banyak bisa didapat kembali.

Saling menyumbang menekan biaya produksi itulah konsep terintegrasi.

Semoga bermanfaat..


Salam 🇮🇩
WS/Pak Tani

Surya Prima Tour

Produk Terlaris