Our Fhoto

Pupuk Non Subsidi

Pupuk 
Humagrow

Produk Promo

Bibit Online

Kategori Produk

Diberdayakan oleh Blogger.

Jual Bibit Online

Bibit Online

Bank Transfer

Bibit OnlineBibit Online

Jual Media Tanam

Bibit Online

Mewujudkan ketahanan pangan nasional dengan merubah lahan kritis menjadi lahan produktif

Tingkat lahan kritis di Indonesia terus meningkat dan mengkhawatirkan karena mengganggu produktivitas hasil pertanian dan dianggap sebagai salah satu ancaman utama bagi target swasembada pangan nasional yang ditetapkan oleh pemerintah.
Dengan kondisi demikian, maka ada tiga hal yang perlu dilakukan untuk merealisasikan swasembada pangan, yaitu intensifikasi di lahan pertanian eksisting, perluasan lahan, dan pengendalian konversi lahan pertanian, termasuk perbaikan pemupukan menuju pemupukan berimbang.
Sebagai bagian dari program ketahanan pangan nasional, pemerintah sendiri terus mendorong peningkatan penggunaan pupuk organik dan pupuk majemuk berimbang, serta penyempurnaan data yang berbasis orang dan lahan.
Lahan kritis telah mengalami kerusakan baik secara fisika, kimia, maupun biologi. Jumlah lahan kritis di Indonesia semakin meningkat seiring adanya pembukaan dan penggundulan hutan, penambangan, serta eksploitasi yang berlebihan terhadap tanah. Diperkirakan saat ini luas lahan kritis mencapai 77,8 juta hektare, yang terdiri dari lahan agak kritis mencapai 47,6 juta hektar, lahan kritis seluas 23,3 juta hektar, dan lahan sangat kritis mencapai 6,8 juta hektar.
Mengingat besarnya luas lahan tidak produktif tersebut, maka diperlukan upaya rehabilitasi agar lahan tersebut kembali produktif. Lahan kritis apabila terus dibiarkan akan membahayakan kehidupan manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung. Lahan kritis dapat mengakibatkan banjir apabila hujan tiba.
Mewujudkan ketahanan pangan nasional dengan merubah lahan kritis menjadi lahan produktif

Cara merehabilitasi lahan kritis
Memanfaatkannya untuk lahan pertanian dengan teknik tertentu, membuat teras-teras untuk mengurangi erosi tanah, penghijauan atau reboisasi, reklamasi, serta menghilangkan zat cemar di lahan tersebut. Teknik itu salah satunya melingkupi pemanfaatan asam humat yang bisa diperoleh dari limbah rumah tangga baik di perdesaan maupun perkotaan.
Untuk mendapatkan asam humat, cara yang harus ditempuh ialah menguraikan bahan-bahan organik dari limbah rumah tangga, seperti tinja dan sampah sehari-hari. Melalui proses humifikasi atau pengomposan, asam humat tersebut selanjutnya digunakan sebagai humus. Asam humat dikenal sebagai bahan yang bisa menyuburkan tanaman.
Pasalnya, senyawa itu membantu proses pelepasan zat hara, seperti nitrogen (N), kalsium (Ca), Kalsium (K), dan Fosfor (P). Karena itu, asam humat berguna dalam mengubah lahan kritis menjadi lahan potensial. “Asam humat memiliki kemampuan untuk merangsang aktivitas mikroba dalam tanah.
Apabila dibandingkan dengan pupuk buatan dan variasinya, kemampuan pelepasan unsur hara oleh asam humat lebih lambat. Namun, hal tersebut justru membuat unsur hara tersimpan lebih awet. Jika pupuk buatan melepaskan nitrogen dalam waktu enam bulan dan kompos satu hingga dua tahun, asam humat memerlukan waktu empat hingga 10 tahun.
Lebih Ekonomis
Penggunaan asam humat dalam memperbaiki kondisi lahan kritis terbilang lebih ekonomis dibandingkan dengan penggunaan pupuk buatan. Pemberian asam humat sebanyak 10 ribu kilogram untuk setiap hektare mampu menyuplai kebutuhan N sebanyak 69 kilogram, P sebesar 63,5 kilogram, K sebanyak 38 kilogram, Ca dan magnesium (Mg) masing-masing sebanyak 24 kilogram dan 6 kilogram.
Hal lain yang menguntungkan dari penggunaan asam humat untuk memperbaiki kondisi lahan kritis ialah hingga tahun keempat, unsur-unsur hara yang dikeluarkan tersebut akan relatif sama dengan tahun pertama. Pelepasan nitrogen diartikan pula humat mampu menyuplai zat karbon ke dalam tanah yang Iebih besar ketimbang kompos.
Selain bekas ladang ubi kayu, perbaikan lahan dengan memanfaatkan asam humat juga bisa diterapkan pada lahan yang pernah ditanami tebu. Pemberian humat bisa menggantikan unsur N yang terserap tebu sebanyak 20 ton per hektare per musim. Kebutuhan humat untuk memperbaiki lahan yang akan ditanami jagung, kol, ketela rambat lebih banyak ketimbang tebu. Itu juga membutuhkan unsur K.
Untuk lahan kritis yang akan ditanami padi, agar lahan terebut bisa menghasilkan gabah sebanyak empat ton per hektare, diperlukan bahan humat sebanyak 10 ribu kilogram per hektar. Sedangkan jika produksi gabah ingin digenjot hingga mencapai delapan ton per hektare, humat yang dibutuhkan sebanyak 10 ton.
Meski produktivitas lahan meningkat akibat adanya penambahan humat, tetap saja harus diikuti dengan pemberian pupuk anorganik. Tujuannya agar tanah tidak kehilangan unsur-unsur hara yang diperlukan tanaman sehingga lahan pun masih dapat ditanami.




Surya Prima Tour

Produk Terlaris